Kerajaan Islam di Indonesia, Sejarah Singkat, Ekonomi & Peninggalan

Kerajaan Islam di Indonesia memiliki peranan penting yang membuat Indonesia menjadi negara dengan penduduk dengan agama islam terbesar didunia. Islam bukanlah agama yang dari awal memang terdapat di Indonesia, melainkan masuk melalui Jalur Perdagangan. Hal ini dikarnakan Indonesia merupakan negara strategis dimana banyak negara yang singgah terlebih dahulu sebelum menuju negara tujuannya.

Banyak pedagang yang berada di Indonesia dan Pedagang tersebut berasal dari berbagai negara dengan kebudayaan dan agama yang berbeda-beda. Melalui hal tersebutlah semuanya dimulai hingga terciptanya kerajaan-kerajaan islam yang tentu saja sangat mempengaruhi kebudayaan dan agama di Indonesia.

Berikut beberapa Kerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia beserta Sejarah singkat dan keadaan ekonominya.

Daerah Sumatra

Kerajaan Perlak (840 – 1292)

Sejarah Singkat Kerajaan Perlak

Kerajaan Perlak atau disebut juga Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam Indonesia yang terletak di Peureulak, Aceh Timur pada Tahun 840-1292 Masehi. Nama Perlak diambil dari jenis kayu yang sangat terkenal di daerah perlak. Kayu ini digunakan untuk pembuayan kapal dan memiliki kualitas yang sangat baik.

Kerajaan Perlak didirikan oleh Alaidin Sayyid Maulana Aziz Syah yang juga merupakan Sultan pertama kerajaan ini. Kemudian pada tahun 1225-1263 kerajaan perlak berada pada masa kejayaan dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat. Kerajaan ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam penyebaran dakwah islam.

Sempat terjadi perpecahan di kerajaan perlak, yaitu antara golongan sunni dan syiah hingga akhirnya Perlak dibagi menjadi 2, yaitu Perlak Pesisir dan Perlak Pedalaman. Perlak akhirnya menjadi satu ketika Kerajaan Sriwijaya menyerang yang mengakibatkan pemimpin Perlak Pesisir Wafat. Kerajaan Perlak terus berlanjut hingga wafatnya Sultan terakhir yaitu Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat yang memimpin dari tahun 1267 – 1292. Kerajaan perlak akhirnya disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai.

Ekonomi Kerajaan Perlak

Selain terkenal dengan kayunya, Daerah perlak memang sudah terkenal sebagai penghasil lada. Suhu dan Cuaca perlak sangat mendukung sehingga produksi lada meningkat dengan cepat dan memancing banyak pedagang mendatangi perlak.

Mayoritas penduduk perlak melakukan perdagangan atau berdagang sebagai mata pencaharian utama. Perlak merupakan daerah yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai negara seperti Gujarat, Arab, dan Persia. Islam di perlak berkembang dengan pesat, hal dikarnakan banyaknya pedagang yang menikahi penduduk setempat sehingga terjadinya perpaduan kebudayaan dan agama yang menjadi cikal bakal lahirnya islam di Indonesia.

Peninggalan Kerajaan Perlak

Terdapat beberapa peninggalan Kerajaan Perlak yang dianggap sebagai bukti sejarah bahwa kerajaan ini memang pernah berdiri

  1. Mata Uang Kesultanan Perlak

    Mata uang kesultanan perak dibagi menjadi 3 berdasarkan materi pembuatnya :

    Dirham, Mata Uang Perlak yang terbuat dari Emas
    Kupang, Mata Uang Perlak yang terbuat dari Perak
    Kuningan, Mata Uang Perlak yang terbuat dari Tembaga

  2. Stempel Kerajaan Perlak

    Terdapat Stempel Kerajaan Perlak yang memiliki pola tulisan arab yang berasal dari salah satu kerajaan yang termasuk kedalam Kesultanan Perlak yaitu Kerajaan Bendahara.

  3. Makam Raja Benoa

    Kerajaan Benoa merupakan salah satu kerajaan bagian dari Kerajaan Perlak. Terdapat makam dari salah satu Raja Kerajaan Benoa yang terletak di Pinggir Sungai Trenggulon.

Kerajaan Samudra Pasai (1267 – 1521)

Sejarah Singkat Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudera Pasai atau dikenal juga dengan kerajaan Samudra Darusslam adalah kerajaan islam yang terletak di Lhokseumawe,Aceh Utara. Sultan atau Raja pertama Kerajaan Samudra Pasai yang sekaligus pendiri kerajaan samudra pasai adalah Sultan Malik as-Saleh yang merupakan anak dari Sultan Terakhir kerajaan Perlak.

Masa Kejayaan Kerajaan Samudra Pasai terjadi pada masa kepimpinan Sultan Malik Al Tahir. Keadaan Kerajaan pada saat tersebut sangat stabil, perdagangan berjalan sangat maju dan wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan samudra pasai sangat aman dan memiliki kesejahteraan yang tinggi. Kerajaan Samudra Pasai menjadi pemicu perkembangan islam di Indonesia

Pemerintahan Kerajaan Samudra Pasai berkembang cukup lama. Pada akhir pemerintahan terjadi beberapa pertikaian internal seperti terjadinya perang saudara hingga akhirnya Samudra Pasai Takluk oleh Portugal pada tahun 1521 yang sebelumnya telah mengalahakan Malaka pada tahun 1511. Pada tahun 1524 Kerajaan Samudra Pasai resmi menjadi bagian dari Kedaulatan Kesultanan Aceh

Ekonomi Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudra pasai mengandalkan Lada sebagai komoditas dan daya tarik utamanya. Aceh memang terkenal sebagai penghasil lada yang baik karna cuaca dan suhunya yang sangat mendukung. Sebagai kota perdagangan, daerah Pasai sangat banyak dikunjungi para pedagang yang datang dari berbagai negara termasuk daerah Gujarat Arab dan Persia. Perkembangan Islam memang dari awalnya kuat di daerah ini dikarnakan kerjaaan Samudra Pasai merupakan gabungan dari kerajaan Pase dan Perlak dimana Kerajaan Tersebut merupakan Kerajaan Islam.

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Terdapat beberapa peninggalan Kerajaan Samudra Pasai yang dianggap sebagai bukti sejarah bahwa kerajaan ini memang pernah berdiri

  1. Cakra Donya

    Cakra Donya satu lonceng adalah stupa buatan china yang berisikan banyak hiasan dan simbol kombinasi antara aksara cina dan arab

  2. Makam Sultan Malik Al-Shaleh

    Makam Sultan Malik Al-Shaleh terletak di Desa Beuringin, Kecamatan Samudra. Makam ini terletak kurang lebih 17 KM sebelah timor kota lhokseumawe

  3. Stempel Kerajaan Samudra Pasai

    Stempel ini diperkirakan merupakan milik Sultan Muhamad Malikul Zahir. Stempel ini ditemukan di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samdura, Aceh Utara.

  4. Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

    Naskah ini ditulis pada 923 H atau 1518 M yang ditujukan pada Kapitan Moran.

Kerajaan Aceh (1496 – 1903)

Sejarah Singkat Kerajaan Aceh

Kesultanan Aceh atau Kerajaan Aceh adalah Kerajaan Islam yang berada di Banda Aceh Darussalam, Aceh. Sultan pertama kerajaan aceh adalah Sultan Ali Mughayat Syah. Pada masa Pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah, Portugis tidak mampu melebarkan sayapnya di daerah Aceh. Hal ini dikarnakan Sultan Ali Mughayat Syah mengembangkan sistem pendidikan militer sehingga memiliki pasukan yang kuat untuk mengusir bangsa eropa untuk dapat duduk di daerah aceh.

Kesultanan Aceh berada pada masa keemasanya ketika Sultan Iskandar Muda menjabat sebagai Sultan Aceh. Pada masa ini Kesultanan Aceh melakukan ekspansi ke Wilaah Pahang yang terkenal sebagai penghasil timah dan berhasil mengalahkan banyak pasukan portugis. Kesultanan Aceh mengalami kemunduran setelah mulai tertekan dengan ekspansi besar-besaran belanda di wilayah sumatra, Indonesia.

Ekonomi Kerajaan Aceh

Kesulatanan Aceh memiliki banyak komoditas yang membuat kerajaan ini kuat, komoditas ini meliputi Minyak Tanah, Belerang, Kapur, Emas sutra dan tentu saja Lada. Lada memang komoditas utama setiap kerajaan yang berada di Aceh, Hal ini tentu saja tak lepas dari keuntungan Aceh yang memiliki Cuaca dan Iklim yang sesuai untuk penanaman Lada.

Peninggalan Kerajaan Aceh

Terdapat beberapa peninggalan Kerajaan Aceh yang dianggap sebagai bukti sejarah bahwa kerajaan islam ini memang pernah berdiri di Indonesia

  1. Masjid Raya Baiturrahman

    Masjid Raya Baiturrahman adalah peninggalan kerajaan aceh yang masih ada hingga saat ini. Masjid ini dibangun oleh Sultan Iskanda Muda pada tahun 1612

  2. Taman Sari Gunongan

    Taman Sari Gunongan adalah taman yang sudah ada sebelumnya, kemudian taman ini rusak dan dibangun ulang oleh Sultan Iskandar Muda

  3. Pintu Khop

    Pintu khop adalah pintu gerbang berbentuk kubah. Pintu ini didirikan pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Daerah Jawa

Kesultanan Cirebon (1430 – 1666)

Sejarah Singkat Kerajaan Cirebon

Kesultanan cirebon atau Kerajaan Cirebon adalah kerajaan islam yang berdiri sekitar abad ke 15 Masehi. Kerajaan Cirebon pertama kali berdiri pada tahun 1430 dengan Pangeran Walangsungsang sebagai Sultan Cirebon I.

Penyebaran Islam makin gencar ketika Sunan Gunung Jati menjabat sebagai Sultan Cirebon II. Pada masa ini Islam disebarkan ke berbagai daerah dengan Syiar-syiar. Kesultanan Cirebon berakhir setelah kesultanan cirebon terbagi menjadi 2 yaitu Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman

Ekonomi Kerajaan Cirebon

Kerajaan Cirebon merupakan kerajaan islam terkenal di daerah jawa, hal ini dikarnakan posisinya yang sangat strategis dimana Cirebon menghubungkan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Selain hal tersebut para penduduk Kesultanan Cirebon rata-rata berprofesi sebagai nelayan hal ini membuat hasil laut mereka turut andil menjadi salah satu komoditas utama Kesultanan Aceh.

Peninggalan Kerajaan Cirebon

Terdapat beberapa peninggalan Kerajaan Cirebon yang dianggap sebagai bukti sejarah bahwa kerajaan ini memang pernah berdiri

  1. Keraton Kesepuhan Cirebon

    Keraton Kesepuhan Cirebon dibangun pada tahun 1430. Pembangunan ini dilakukan atas permintaan Pangeran Cakrabuana atau lebih dikenal dengan Mbah Kuwu Cerbon. Keraton ini diubah namanya menjadi Istana Pakungwati oleh Pangeran Cakrabuana.

  2. Keraton Kanoman

    Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohammad Badridin atau dikenal dengna pangeran Kertawijaya.

  3. Keraton Kacirebon

    Keraton Kacirebon ini didirikan pada tahun 1800 M. Keraton ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang peninggalan seperti Kris, boneka, gamelan dan berbagai macam alat.

Kesultanan Demak (1500 – 1550)

Sejarah Singkat Kerajaan Demak

Kesultanan Demak atau Kerajaan Demak merupakan Kerajaan Islam Terbesar dan Terkuat di Daerah Jawa. Sultan pertama Kerajaan Demak adalah Raden Patih. Kemunculan Demak terjadi ketika Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran setelah beberapa wilayah kekuasaan memutuskan untuk memisahkan diri. Perkembangan Islam sangat gencar dilakukan dikarnakan terdapat Wali Songo yang melakukan Syiar Islam ke seluruh wilayah Jawa.

Pemerintahan Kesultanan Demak sangat sukses dimana para pemimpinnya berhasil menunjukkan visi dan misi dari kerajaan tersebut. Terdapat 5 Sultan yang pernah memimpin Kesultanan Demak antara lain  Raden Fatah, Pati Unus, Sultan Trenggono, Sunan Prawata, dan Arya Penangsang.

Kesultanan Demak berakhir ketika terjadi Perang Saudara demi memperebutkan tahta. Kesultanan Demak resmi berakhir ketika Adipati Pajang (Jaka Tingkir) memindahkan kekuasaan kesultanan demak ke kesultanan Pajang.

Ekonomi Kerajaan Demak

Kesultanan Demak memiliki perekonomian yang sangat baik. Kerajaan ini memiliki komoditas pertanian seperti beras, lilin dan madu. Selain hal tersebut Kesultanan Demak juga mendominasi kemaritiman dan juga memainkan fungsinya sebagai transito atau sebagai penghubung pengiriman barang dari wilayah awal ke wilayah tujuan.

Peninggalan Kerajaan Demak

Terdapat beberapa peninggalan Kerajaan Demak yang dianggap sebagai bukti sejarah bahwa kerajaan ini memang pernah berdiri

  1. Masjid Agung Demak

    Masjid Agung Demak didirikan pada tahun 1479 dan digunakan untuk keperluan syiar islam pada masa pemerintahan keraajan Demak

  2. Makam Sunan Kalijaga

    Sunan Kalijaga adalah salah satu wali songo yang berdakwah menyampaikan syiar islam di pulau jawa. Beliau wafat pada tahun 1520 dan dimakamkan di Desa Kadilangu.

  3. Pawestren

    Pawestren adalah tempat bagi perempuan untuk sholat berjemaah. Hal ini dikarnakan pada masa itu faham islam sudah sangat maju sehingga laki-laki dan perempuan dipisahkan ketika sholat.

Kesultanan Pajang (1568 – 1618)

Sejarah Singkat Kerajaan Pajang

Kesultanan Pajang atau Kerajaan Pajang merupakan lanjutan dari Kesultanan Demak. Kerajaan yang terletak di Jawa Tengah ini memiliki Sultan pertama yaitu Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir.

Kesultanan pajang hanya memiliki 3 Raja selama perkembangannya. Kerajaan ini mengalami kemunduran dengan cepat dikarnakan terjadinya perebutan kekuasaan dan tidak ada nya sultan berikut yang menggantikan. Kesultanan ini berakhir dengan berada dibawah kesultanan Mataram.

Ekonomi Kerajaan Pajang

Perekonomian Pajang cukup mirip dengan pendahulunya yaitu Kesultanan Demak. Hal ini karna memang wilayah kekuasaan kesultanan pajang merupakan wilayah kesultanan demak dahulu. Islam berkembang dengan sangat pesat sebelumnya yang dahulu penyebarannya hanya berada di wilayah pesisir, pada masa kesultanan pajang berhasil menyebarkannya ke wilayah pedalaman.

Peninggalan Kerajaan Pajang

Terdapat beberapa peninggalan Kerajaan Pajang yang dianggap sebagai bukti sejarah bahwa kerajaan ini memang pernah berdiri

  1. Pasar Laweyan

    Pasar laweyan adalah pasar utama yang dijadikan tempat berkumpulnya masyarakat sekitar untuk melakukan kegiatan perdagangan.

  2. Bandar Kabanaran

    Bandar kabanaran adalah sebuah kota yang berkembang pada masa pemerintahan kerajaan pajang.

  3. Masjid Laweyan

    Masjid laweyan atau dikenal dengan masjid Ki Ageng Henis yang terletak diwilayah solo.

Kesultanan Mataram Islam (1586 – 1755)

Sejarah Singkat Kerajaan Mataram Islam

Kesultanan Mataram atau Kerajaan Mataram adalah kerajaan yang memiliki pusat pemerintahan di wilayah Yogyakarta. Sultan pertama kesultanan Mataram adalah Sultan Sutawijaya. Kesultanan Mataram Islam sangat kuat pada masanya. Kesultanan ini hampir menduduki seluruh wilayah jawa dan berhasil mendapatkan pengakuan secara de Facto dari belanda.

Masa keemasan Kesultanan Mataram terjadi ketika dipimpin oleh Sultan Agung. Pada masa inilah Kesultanan Mataram mampu menaklukan hampir seluruh wilayah jawa dan memerangi VOC. Selain hal tersebut Sultan Agung juga berhasil menemukan kalender perpaduan antara kalender masehi dan kalender saka.

Kesultanan Mataram mengalami kemunduran pada masa pemerintahan Amangkurat II. Kesultanan Mataram dibagi menjadi 2 yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kesultanan Surakarta yang perjanjian tersebut disebut juga dengan Perjanjian Gayatri. Kedua kesultanan masih berdiri hingga saat ini.

Ekonomi Kerajaan Mataram Islam

Perekonomian Kesultanan Mataram berasal dari Pertanian. Penduduk Kesultanan Mataram menggunakan hasil dari pertanian sebagai komoditas utama. Sistem persawahan dan pertanian berkembang sehingga manghasilkan banyak produksi daripada biasanya.

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

Terdapat beberapa peninggalan Kerajaan Mataram Islam yang dianggap sebagai bukti sejarah bahwa kerajaan ini memang pernah berdiri

  1. Masjid Agung Gedhe Kauman

    Masjid ini dibangun pada tahun 1773 pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. Masjid ini terletak di Kampung Kauman, Yogyakarta

  2. Masjid Kotagede

    Masjid ini dibangun oleh sultan Agung pada 1640. Terletak di kawasan Pasar Kotagede, Yogyakarta

  3. Masjid Agung Surakarta

    Masjid ini didirikan pada tahun 1764 oleh Paku Buwono III. Terletak di Alun-alun utara Keraton Surakarta

Daerah Maluku

Kesultanan Ternate (1257 – Kini)

Sejarah Singkat Kerajaan Ternate

Kesultanan Ternate atau Kerajaan Gapi merupakan kerajaan islam yang berasal dari Kepulauan Maluku. Kerajaan Ternate dianggap sebagai salah satu kesultanan tertua di Indonesia.Pemimpin pertama kesultanan Ternate adalah Momole Ciko. Dimasa keemasannya, Kesultanan Ternate memiliki wilayah kekuasaan mulai dari wilayah maluku hingga Kepualauan Marshall di Pasifik.

Masa keemasan kesultanan ternate terjadi ketika dipimpin oleh Sultan Baabullah atau sering disebut sebagai Penguasa 72 Pulau. Kesuluruhan pulau tersebut merupakan kepulauan berpenghuni sehingga membuat Kesultanan Ternate menjadi kesultanan islam terbesar di Indonesia Timur. Sultan Baabullah juga berhasil membuat portugis keluar dari maluku untuk selamanya. Kesultanan mengalami masa kemunduran setelah Sultan Baabullah meninggal, Kemunculan VOC dengan perlahan melemahkan kesultanan ternate.

Ekonomi Kerajaan Ternate

Perekonomian Kesultanan Ternate sangatlah makmur, komoditas utamanya adalah Rempah-Rempah. Perdagangan Rempah-rempah yang sangat sukses menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat.

Peninggalan Kerajaan Ternate

Terdapat beberapa peninggalan Kerajaan Ternate yang dianggap sebagai bukti sejarah bahwa kerajaan ini memang pernah berdiri

  1. Keraton Kesultanan Ternate

    Keraton ini berada ditengah kota Ternate. Interior bangunan yang dipenuhi emas menunjukkan kejayaan kerajaan ternate pada masanya

  2. Masjid Sulan Ternate

    Masjid ini dirintis pembangunannya pada masa kepemimpinan Sultan Zainal Abidin, Raja ke 18 Kerajaan Ternate.

  3. Makam Sultan Babullah

    Sultan Babullah adalah Raja Ternate ke 24 yang berkuasa mulai tahun 1570 – 1583.

kerjaaan ternate
kerjaaan ternate

Dearah Sulawesi

Kesultanan Buton (1332 – 1911)

Sejarah Singkat Kerajaan Buton

Kesultanan Buton atau Kerajaan Buton merupakan kerajaan islam yang berada di Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara. Nama Buton sendiri sudah ada sejak zaman Majapahit dimana Gadjah Mada menyebut nama suatu pulau dengan Pulau Buton. Raja ke 6 Buton yaitu Timbang Timbangan secara resmi membuat kerajaan Buton menjadi kerajaan berbasis Islam.

Pada masa kejayaanya, Kesultanan Buton memiliki koneksi yang kuat dan menjaga Kesultanan Buton selalu kuat dan konsisten. Kesultanan Buton memiliki hubungan diplomatik mulai dari sulawesi hingga pulau jawa.

Ekonomi Kerajaan Buton

Perekonomian Kesultanan Buton didapat dengan memanfaatkan lokasi yang sangat strategis yang dimiliki Kesultanan Buton. Kesultanan Buton menjadi daerah singgahan dimana Para pedagang India, Arab, China dan Eropa lebih memilih melewati Kesultanan Buton dibanding melalui Utara Sulawesi.

Peninggalan Kerajaan Buton

Terdapat beberapa peninggalan Kerajaan Buton yang dianggap sebagai bukti sejarah bahwa kerajaan ini memang pernah berdiri

  1. Benteng Wolio

    Benteng Wolio dibangun pada tahun 1634 M oleh Sultan ke 6 La Buke. Sultan La Buke atau sering disebut Sultan Abdul Ghafur.

  2. Batu Popaua

    Batu Popaua adalah tempat yang digunakan untuk melantik para sultan pada zaman dulu.

Kesultanan Gowa (1300 – Kini)

Kesultanan Gowa atau Kerajaan Gowa yang berada di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini merupakan bentukan dari 9 Komunitas yang dikenal dengan Bate Salapang. Kesultanan Gowa juga disebut dengan Gowa Tallo, hal ini merupakan Perpaduan dari 2 kerajaan yang berbeda yaitu kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.

Bergabungnya kedua kerajaan membuat Kesultanan Gowa mencapai masa keemasannya. Kerajaan ini memegang wilayah perdagangan Wilayah Timur Nusantara beserta maritimnya. Hal ini lah yang menjadi sumber perekonomian dari kesultanan gowa, ditambah dengan hasil pertanian rempah-rempah yang sangat dicari bangsa-bangsa eropa.

Keselurahan dari kerajaan diatas merupakan bukti asal muasal islam bisa masuk ke Indonesia. Melalui Kerajaan Islam di Indonesia, Perkembangan Kebudayaan Islam menjadi lebih cepat hingga saat ini.